Kamis, 24 Mei 2012

Sanggupkah Wanita Menjadi Tiang Agama


Wanita adalah tiang agama. Mendengar pepatah ini, sebagai wanita seperti mendapat beban yang sangat berat yang mesti dipikul dalam menjalani kehidupan ini. Seolah-olah hancur leburnya dunia ini semua diserahkan kepada wanita sebagai penanggung jawab. Dunia berada dalam genggaman tangan wanita, entah madu atau racun yang akan disuguhkan, itu semua tergantung pada wanita. Namun jika ditinjau dari sisi sebaliknya, wanita seharusnya merasa bangga jika mampu mewujudkan keberhasilanya sebagai wanita penegak tiang agama.

Wanita yang mampu menyuguhkan madu buat keluarganya, tentunya bukan sembarang wanita yang mampu melakukan. Wanita tersebut pasti mempunyai iman yang kuat, tahu nilai-nilai kebajikan dan tabah menjalani segala cobaan hidup. Tidak gampang terpengaruh oleh kilaunya dunia serta mampu memahami arti kehidupan di dunia fana ini. Wanita seperti ini tentunya tidak gampang terbujuk oleh bujuk rayu nafsu keduniawian, sikapnya sederhana dan menyejukan hati siapa saja yang berada bersamanya. Dengan demikian tak ada alasan bagi pengaruh jahat apapun yang akan berusaha menghancurkannya, karena tidak ada celah kekosongan dalam hatinya yang mampu disusupi oleh pengaruhi iblis manapun.

Sebaliknya wanita yang membawa racun, seluruh hidupnya hanya akan menghancurkan orang-orang disekitarnya. Sebagai ibu, dia hanya bisa mengajarkan anak-anaknya mengejar keduniawan, bagaimana mengejar kepentingan pribadi dan keluarga semata-mata demi nama baik dan kekayaan. Anak bagi dia adalah sebagai penerus ambisinya, sebagai alat pemuas nafsu mengejar nama baik dan pengumpul kekayaan. Sepanjang hidupnya dalam hatinya hanya terisi keinginan untuk menjadi pemenang untuk meraih puja dan puji. Sebagai istri, wanita ini hanya akan selalu menuntut agar suaminya memenuhi segala keinginanya untuk menjadi wanita yang paling sempurna dalam penampilannya. Dia sudah tidak peduli berapa besar kemampuan suaminya dalam mewujudkan keinginannya. Sedangkan suami yang tidak tegas salah-salah akan menghalalkan segala cara demi permintaan istri dan anak hasil didikannya.

Wanita yang mampu menegakkan tiang agama, akan dengan tegas mampu menolak segala sesuatu yang tidak mengikuti norma kebajikan dalam agama dan mampu memikul konsekwensi atas segala penolakannya. Misalnya suami atau anak terlibat perbuatan yang meyimpang dari agama, dia sangggup dengan tegas meminta suami dan anaknya untuk kembali ke jalan yang benar dengan berani menangung resiko kemiskinan dan menanggung perasaan terhina dan segala penderitaan, bukan malah berusaha menutupi segala perbuatan buruk suami dan anaknya demi menutupi rasa malunya sendiri. Dalam kemiskinan wanita tersebut mampu menahan segala godaan yang menyesatkan, serta mampu meghindar dari segala bujuk rayu yang menawarkan kenikmatan agar segera terlepas dari penderitaannya. Dengan kata lain, wanita ini, tak peduli betapa menderitanya, dia sanggup bertahan demi mempertahankan moral dan kebajikan dengan penuh keyakinan.

Seandainya semua wanita mempunyai nilai-nilai moral dan kebajikan yang tinggi, niscaya tak ada lagi istilah laki-laki hidung belang, tak ada lagi perselingkuhan, tak ada lagi korupsi karena semua wanita tak tergiur oleh harta dan tak silau oleh puja dan puji. Biarkanlah para pria yang mempunyai hati dan niat yang tidak baik bertepuk sebelah tangan, dengan demikian seluruh angan-angan buruknya akan sirna dengan sendirinya. Jika semua wanita sanggup berbuat begini maka tiang agama benar-benar akan tegak dan tak akan pernah tergoyahkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar